SEJARAH

  04 April 2017  |  DESA KESILIR

          Sebelum tahun 1921 wilayah Banyuwangi bagian selatan merupakan wilayah kependudukan Belanda , pengendalian pemerintahan ada di Bangorejo , luas wilayahnya meliputi Bangorejo sampai bibir pantai selatan ( Purwosari ). Terdiri dari Dusun Pedotan , Dusun Sukorejo , Dusun Silir Krajan , Dusun Siliragung , dan Dusun Buluagung. Keadaan atau kondisi wilayah di tiap – tiap dusun tersebut merupakan hutan hitrogen yang sangat lebat dengan pohon – pohon berukuran besar. Sedangkan pemerintah kolonial Belanda pada masa itu sudah membangun dan memiliki hutan jati dan perkebunan kopi serta kakao / cokelat di wilayah Sarongan.

            Pada tahun 1921 masyarakat bersama Bapak H. Ichsan menebangi pohon – pohon besar untuk mendapatkan lahan permukiman dan lahan pertanian. Pembukaan lahan dimulai dari sebelah selatan Desa Sukorejo sampai pantai selatan. Selanjutnya lahan – lahan yang diperoleh dijadikan dusun – dusun yaitu Dusun Silir Krajan , Dusun Siliragung , dan Dusun Buluagung. Dengan terbukanya lahan pertanian , mengundang penduduk sekitar dan penduduk luar Banyuwangi , Jember , Malang , Ponorogo , Madura , Solo , Yogyakarta , dan daerah lainnya untuk turut membuka lahan baru , tinggal dan menetap dan bercocok tanam serta bekerja di perkebunan dan hutan jati milik Belanda yang ada di sekitar. Wilayah tersebut akhirnya semakin banyak penduduknya dan mengangkat Bapak H. Ichsan untuk memimpin menjadi Kepala Desa Silir Krajan yang wilayahnya meliputi Dusun Krajan , Dusun Siliragung , dan Dusun Buluagung. Untuk pusat pemerintahannya berada di Dusun Krajan.

            Bapak H. Ichsan pada awal pemerintahan tahun 1921 membangun kantor dan balai desa di halaman rumah pribadinya untuk menjalankan pemerintahan dan melayani kebutuhan masyarakat. Bapak H. Ichsan sejak mulai merintis desa memiliki gagasan dan konsep – konsep tentang tata ruang dan tata kota. Ketika diangkat menjadi Kepala Desa maka konsep – konsep tersebut diwujudkan dan diimplementasikan pembangunannya.

            Awal mula pemerintahan , kebijakan yang diambil adalah menentukan batas wilayah. Untuk batas wilayah sebelah utara yaitu berbatasan dengan Desa Sukorejo , namun ada masyarakat yang masuk ke wilayah Desa Sukorejo memilih untuk masuk ke wilayah Desa Silir Krajan yang saat ini daerah tersebut dikenal dengan daerah Tegal Sogok , karena apabila di lihat dari peta wilayah tersebut tampak menjorok kewilayah desa lain ( Nyogok ). Batas wilayah timur berbatasan dengan Kali Mbango ( Sungai Bango ) , untuk Kali Mbango sebelah barat masuk wilayah Desa Silir Krajan sedangkan sebelah timur masuk wilayah Desa Seneporejo. Untuk sebelah barat batas diambil dari Kali Baru ( Sungai Baru ) , untuk sebelah barat masuk wilayah Desa Sumbermulyo dan Desa Barurejo sedangkan untuk sebelah timur masuk wilayah Desa Silir Krajan. Selanjutnya batas sebelah selatan berbatasan langsung dengan Pantai Selatan ( Samudera Hindia ).

            Kebijakan tata kota yang selanjutnya adalah penentuan alokasi  untuk pengembangan area pembangunan. Untuk area pertanian , lahan basah , atau persawahan memilih yang dekat dengan aliran sungai. Karena tebingnya sangat curam sehingga sulit untuk dialirkan ke dataran lokasi tersebut , Kali Baru ( Sungai Baru )dan Kali Mbango ( Sungai Bango ) tidak dipilih menjadi lahan pertanian. Pada akhirnya lahan pertanian di tempatkan di sebelah kanan kiri Water Start yang sudah dibangun oleh Belanda , yang saat ini kita kenal dengan istilah Watersetat ( DAM ).

            Selanjutnya Bapak H. Ichsan mangatur jalur transportasi yaitu dengan membuka jalan – jalan untuk masyarakat dengan konsep sebagai berikut :

  1. Jalan yang menghubungkan antara arah utara ke selatan dan arah timur ke barat , sengaja menghindari jalan yang melintang atau serong.
  2. Jalan yang melintang dari arah utara ke selatan ditarik lurus dari batas paling utara sampai Dusun Buluagung , lebar jalan yang arahnya melintang dari utara ke selatan adalah 18 meter. Jarak masing – masing jalan yang melintang adalah 250 meter dengan tanaman pohon asam di tepi jalan. Sedangkan untuk jalan yang melintang dari timur kebarat lebar jalannya 12 meter. Jarak masing – masing jalan yang melintang dari timur ke barat adalah 200 meter dengan  tanaman pohon saman.

 

          Pada tahun 1946 setelah Indonesia merdeka maka terjadi pemekaran wilayah yang semula dusun menjadi desa. Dengan kebijakan tersebut yang semula Desa Silir Krajan memiliki 3 dusun yaitu Dusun Krajan , Dusun Siliragung , Dusun Buluagung maka dusun – dusun tersebut berdiri sendiri menjadi bentuk desa yang meliputi Desa Silir Krajan , Desa Siliragung , dan Desa Buluagung sehingga wilayah pemerintahan Desa Silir Krajan menjadi lebih sempit.

          Pada tahun 1987 Desa Silir Krajan yang memiliki 3 dusun yaitu Dusun Krajan I , Krajan II , dan Krajan III , berubah menjadi Desa Kesilir yang memiliki 3 dusun yaitu Dusun Sumberbening , Dusun Sumbersuko , dan Dusun Silirsari.

Contact Details

  Alamat :   JL. H. ICHSAN NO. 112
  Email : desakesilir27@gmail.com
  Telp. : ( 0333 ) 710734
  Instagram :
  Facebook : Kantor Kepala Desa Kesilir - Fanpage : @PemdesKesilir
  Twitter : @PemdesKesilir


© 2019,   Web Desa Kabupaten Banyuwangi